
Hari Jumat kini telah menjadi hari kesukaan gadis itu
Perasaannya tidak berubah walaupun ia menyukai Arvan selama lima bulan dalam diam. Meskipun tanpa melakukan interaksi apapun selain kontak mata, perasaan yang Rula simpan justru semakin kuat. Tidak jarang Rula memiliki keinginan untuk melupakan Arvan. Walaupun Rula menyukainya, Rula juga merasa mereka tidak akan bisa bersatu. Arvan adalah anak OSIS yang populer dan Rula adalah gadis biasa yang tidak pernah menunjukkan prestasi di sekolahnya.
“Arvan dengan diriku sangat berbeda, kita tidak saling mengenal. Dia tidak pernah bertanya tentang kabarku dan kita tidak pernah saling bicara.” Kalimat yang menyakitkan bagi Rula yang harus Rula terima sendiri. Rula sangat suka berbicara pada langit membicarakan dirinya dan hari-harinya dari sudut jendela di kamarnya.
Rula terdiam. “Oke, aku tidak akan membuang-buang waktuku untuk merindukan seseorang yang tidak memperdulikan kehidupanku. Aku akan berusaha melupakannya.” Kata-kata yang sangat sering keluar dari mulut Rula yang tidak pernah berhasil Rula lakukan.
Satu pekan berjalan dan Rula hampir berhasil melakukannya. Namun lagi-lagi Rula harus kehilangan niatnya untuk melupakan Arvan karena kemunculan dan tingkah Arvan yang sangat menggemaskan. Niat itu tertimbun oleh cinta Rula pada Arvan yang tumbuh kembali.
Hari ini di sekolah mereka sedang ada kajian Isra’ Mikraj. Kegiatan kajian rutin ini menjadi kewajiban siswa siswi disana untuk ikut serta. Kajian bersama ustadz terpilih dengan penampilan hadroh dan kado silang membuat Rula merasa senang mengikuti kegiatan tersebut. Terlebih mengetahui Arvan ikut serta dalam kegiatan tersebut, menambah semangat Rula mengikuti acara tersebut.
Hari ini adalah hari bahagia bagi Rula. Rula kembali jatuh cinta kepada Arvan. Ia merasa Jatuh cinta kedua kalinya pada orang yang sama. Entah mengapa Rula tidak bosan dengan cara menyukainya yang hanya diam saja tanpa memulai obrolan bahkan interaksi yang lebih dari interaksi kecil yang semua orang lakukan.
Sepanjang acara, selayaknya wanita menyukai pria, Rula selalu menatap Arvan dengan garis senyum di bibirnya. sesekali terjadi kontak mata antara mereka. Rula yang selalu berfikir, bahwa Arvan merasa diperhatikan kemudian matanya tertuju pada Rula hingga terjadi kontak mata, namun Rula juga sangat senang ketika mereka melakukan kontak mata.
Sampai acara selesai, kami semua harus keluar dari aula untuk kembali ke kelas masing masing. Gadis lucu yang membawa kado silang dan beberapa bungkus makanan di perutnya seperti sedang memeluk makanan dengan tangan kecilnya agar makanannya tidak jatuh.
“Ifa, sini!”
“Eh sebentar, tunggu!” Rula memanggil Ifa, temannya sambil kesusahan mengambil permen milik Ifa di kantongnya karena tangan Rula sudah penuh makanan dari kado silang yang Rula dapatkan.
“Ini permen kamu kan?” Rula memberikan permen Ifa.
“Iya, terimakasihh Rulaa,” jawab Ifa sambil memeluk Rula karena sudah berbaik hati membawakan permen Ifa untuknya.
Pertemuan Ifa dan Rula membuat Rula tertinggal oleh teman temannya. Ifa adalah teman Rula yang merupakan rekan OSIS Arvan dimana Rula memang sempat cemburu kepada Ifa, namun Rula bukanlah gadis yang akan menjauhi teman-temannya hanya karena seorang lelaki.
Mereka adalah teman sejak SMP, Rula tidak akan menyakiti teman-temannya tanpa alasan yang logis.
Saat Rula memberikan permen Ifa kepada Ifa. Rula menyadari Arvan berada di belakang Ifa, Arvan sedang membersihkan sampah yang ada di aula setelah acara selesai. Arvan melihat Ifa dan Rula berpelukan sambil tersenyum tipis melihat tingkah lucu gadis-gadis mungil di depannya. Meskipun Rula mengetahui keberadaan Arvan, namun Rula tidak menatap mata lelaki itu. Rula merasa tidak setiap pertemuan harus Rula yang menatapnya. Sesekali Rula ingin merasakan ditatap Arvan diam-diam. Hingga saat Rula keluar dari pintu, mereka keluar bersamaan dengan Arvan di belakang Rula
Dengan perasaan acuh tak acuh, karena tertinggal oleh teman temannya, Rula merasa dia berjalan sendirian karena temannya sudah sampai di kelas. Sebelum sampai kelas, Rula harus melewati kelas 10-4 dan Lab Kimia terlebih dahulu. Ketenangan yang Rula rasakan setelah Rula sampai di depan kelas 10-4 sangat menyenangkan baginya karena Rula telah melewati keramaian di aula.
Rula sampai di depan ruang Lab Kimia dengan kaca gelap yang bisa digunakan untuk berkaca. Rula ingin mengaca, namun ia tidak akan berhenti hanya untuk mengaca. Rula sesekali menoleh ke samping kirinya untuk melihat jendela apakah penampilan nya cukup baik dari samping. Tidak hanya sekali, Rula melakukannya 2-3 kali sambil berjalan. Siapapun yang berada dibelakang Rula mungkin berpikir Rula bertingkah aneh karena selalu menggerakkan kepalanya ke kiri sambil berjalan. Namun rula tidak menyadari seorang pun berjalan di belakangnya. Sampai ia mendengar suara sepatu yang bukan suara sepatunya.
Rula mulai berpikir ada seseorang di belakangnya yang bisa saja melihat sikap aneh seorang Rula. Rula tidak berpikir seorang lelaki yang berjalan di belakangnya, jadi Rula berani untuk memastikan siapa yang berjalan dibelakangnya. Ketika menoleh kebelakang, Rula harus mendongakkan kepala nya untuk melihat wajah manusia di belakangnya itu. Karena Rula sangat pendek dibanding kebanyakan teman-teman di sekolahnya.
Kali ini Rula tidak perlu bersusah payah memutar kepalanya 180° karena Rula merasa manusia itu hampir menyalip Rula, sehingga posisi mereka bersebelahan. Saat Rula menoleh ke samping dengan mendongakkan kepala, Rula terkejut kecil karena ternyata Arvan, lelaki yang selama ini Rula sukai berjalan dibelakangnya sendirian dari aula sampai di depan Lab Kimia. Deg, dada Rula langsung berdegup kencang setelah memandang Arvan sedekat itu.
Setelah Rula menatap Arvan, Arvan sedikit memelankan langkahnya. Arvan merasa sedikit gugup karena gadis dengan tinggi hanya sepundak Arvan memandangnya dari bawah sehingga Arvan hanya bisa melihat ke arah depan dengan wajah yang sedikit tegang.
Rula tidak pernah menyangka bisa memandang wajah Arvan yang sangat tampan dengan cara yang sangat menggemaskan. Meskipun mereka pernah berada di jarak yang lebih dekat dari saat ini, Rula tidak pernah berani menatap wajah Arvan.
Rula tidak pernah membayangkan bagaimana ia berjalan berdua dengan anak OSIS yang sangat tinggi. Hingga imajinasi Rula mulai muncul, Rula teringat pada film dimana seorang pria menjaga wanitanya dari belakang untuk memastikan wanitanya berjalan dengan aman di depannya. Dengan lagu romance yang berputar di kepala Rula membuatnya hampir lupa ia harus membuang sampah bekas makanan yang dibawanya sebelum menuju kelas.
“Eh, iyaa.”
Rula hampir melewati tong sampah di dekatnya sambil berkata pelan pada dirinya sendiri.
Tangan Rula sangat penuh sehingga Rula hanya mampu membuka sebagian tutup tong sampah saja dan memasukkan beberapa bungkus makanan yang harus dibuang. Karena tujuan utama mereka sama jadi Arvan tetap berdiri di belakang Rula untuk menunggu giliran Arvan membuang sampah.
Selesai membuang sampah, Rula harus tetap tenang dan menjaga langkah agar tidak terlalu terlihat mencurigakan. Sampai di kelas, Rula hanya bisa menahan badannya yang gemetar karena kejadian di depan Lab Kimia di depan teman-temannya.
Kejadian itu membuat Rula merasa ia kembali menyukai orang yang sama, ia merasakan kembali perasaan kupu-kupu terbang di perutnya setelah ia hampir berhasil bersikap biasa saja ketika bertemu Arvan.
Sepanjang perjalanan pulang, Rula tidak bisa berhenti tersenyum. Mood nya sangat bagus hari ini. Namun dalam keheningan malam di sudut jendela, Rula dengan ketakutannya. Rula selalu berpikir setelah kebahagian yang sangat indah, akan ada sakit yang sangat dalam.
Rula terdiam di sudut jendela.
“Aku akan tetap mencintaimu dalam diamku, aku pasrahkan semua pada Tuhanku. Jika kamu memang baik untukku, Tuhanku akan membantuku dekat denganmu. Jika tidak, Tuhanku akan membantuku melupakanmu” ucap Rula pada bayangan Arvan dalam gelapnya malam.
Cinta adalah hal yang rumit bagi Rula. Tetapi Rula menyukai perasaan bahagia didalamnya.
Tinggalkan komentar